BOLMUT, Asumsi.id – Melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) terus memaksimalkan pengawasan serta perkembangan kehamilan Ibu Hamil Resiko Tinggi (Bumil Resti) di enam Kecamatan.Jumlah ibu hamil kurang lebih 589 berdasarkan data akumulasi dibeberapa puskesmas. Dengan melibatkan tim  yang terdiri dari tenaga ahli dokter kandungan, Ikatan Bidan Indonesia, ahli gizi, PKK pemerintah desa kecamatan tentunya dengan harapan mampu bekerja ekstra serta menurunkan angka kematian ibu inovasi kabulin,”kata Kepala Bidang (Kabid) kesmas Meiti Tombinawa kepada media ini Senin (13/6) kemarin.

Lanjut Tombinawa, terkait ibu hamil dan ibu menyusui dirinya terus mengingatkan agar terus memantau dan memonitor Bumil Resti, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap ibu dan janin yang dikandung Bumil Resti tersebut. Dengan pemantauan secara terus menerus diharapkan Bumil Resti bisa lancer sampai ke persalinan sehingga Ibu dan bayi bisa selamat dan sehat. Pihaknya saat ini terus memantau khusus bagi Bumil Resit dengan mengunjugi puskesmas dan rumah kepada Bumil Resti dengan harapan kunjungan tersebut untuk melakukan pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan kesehatan ibu dan janin,”Jelas Tombinawa.

Ditambahkan pula selain mengunjungi puskesmas dan rumah masing-masing bumil resit, Dinkes juga memberi makanan tambahan baik itu susu dan vitamin bagi Ibu hamil untuk menunjang kesehatan bumil serta tambahan dari desa yang sudah dialokasikan anggarannya melalui dana desa.
Perlu diketahui ada beberapa inovasi Dinkes saat ini yang menjadi gebrakan prioritas Dinkes melalui kesmas antara lain inovasi rehat ( remaja sehat ), inovasi katinting ( kawal anak stunting ) dan Inovasi kabulin ( kawal ibu hamil ibu melahirkan dan ibu menyusui).

Dari kegiatan gebrakan diatas kedua telah dilaksanakan dan  dalam pengawasan terutama inovasi katinting ( kawal anak stunting ) dgn kabulin ( kawal ibu hamil ibu melahirkan ibu menyusui ) yabg saat ini sudah di laksanakan di desa saleo 1, mokoditek ,desa paku, ollot dan bolangitang dan rencana akan di kunjungi semua balita stunting dengan harapan ketika dikunjungi kami melakukan inpeksi langsung ke keluarga stunting.

Sehingga pengkajian penyebab anak stunting itu dapat kita petakan dan dicarikan solusi sesuai dengan penyebab anak stunting .Dengan kunjungan langsung kita bisa mengetahui keberadaan lingkungan anak dibesarkan dapat terpantau bagaimana faktor sensitif terjadinya stunting misalnya ketersediaan jamban, air bersih, bagaimana kondisi rumah, kebersihan rumah, pola asuh ,ventilasi rumah,” Tutup Tombinawa. (lib/dr)