Pemuda Bolmut Jadi Pembicara Pada Konferensi Internasional di Belanda

oleh -1239 Dilihat

Asumsi.id – Ersad Mamonto, pemuda asal desa Batulintik, Kecamatan Bintauna, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), berhasil lolos seleksi dan berhak mendapatkan kesempatan menjadi salah satu pembicara dalam Konferensi Internasional Ke-3 PCINU Belanda, 8 sampai 9 Juni 2022 di Amsterdam, Belanda.

Ecad, sapaan akrabnya, telah bertolak dari Jakarta menuju Doha (Qatar) hingga akhirnya tiba di Amsterdam, Belanda pada tanggal 7 Juni 2022. Saat ini, Ersad tengah menempuh pendidikan pasca sarjana di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Fakultas Islam Nusantara, jurusan Sejarah Peradaban Islam.

Dalam konferensi tersebut, Ersad dan rekan timnya telah mempresentasikan jurnal karya mereka dengan tema: “The Bajau maritime life and cultural system”.

Penelitian yang di presentasikan tersebut mengangkat bahasan tentang cara ber-Islam orang yang hidup dilaut yakni suku Bajo. Sebagaimana dikatakan oleh Ersad kepada awak media ini via pesan Voice Note.

“Sebagai orang Islam yang tinggal di pemukiman laut, suku Bajo memiliki perbedaan dengan orang yang tinggal di daratan. Namun perbedaan tersebut bukan pada hal-hal prinsip dalam agama,” kata Ersad.

Terkait konferensi tersebut, menurut Ersad ada banyak hal yang diperoleh dan berkemungkinan untuk dapat diadopsi dan diterapkan di Bolaang Mongondow Utara.

“Melihat bagaimana ekosistem pengetahuan dan habit masyarakat disini (Belanda), maka saya berkesimpulan bahwa peradaban itu perlu sains. Sebab salah satu tema yang juga banyak disinggung dalam konferensi ini adalah bagaimana agama dan sains,” ungkapnya.

Yang bisa kita adopsi di Bolmut lanjut Ersad, bukan hanya soal agama dan sains tapi bagaimana mengkoneksikan segala sesuatunya dengan sains.

“Misalnya, pemerintah itu bisa berpegang teguh pada sains dalam mengembangkan kebijakan-kebijakan, jika kita ingin maju. Yang kita sebut sebagai budaya, itu sebenarnya adalah sosial sains,” kata Ersad.

“Jika ada yang menafikan bahwa kultur kita Bolmut tidak cocok dengan kultur Belanda, maka dengan sains kita dapat mencari formulasi kita sendiri yang cocok dengan kultur orang Bolmut, tentunya dengan pendekatan rasionalitas sains. Dalam artian bahwa kontekstualisasi rasional itu harus ada, tentunya dengan berpegang teguh pada sains,” lanjut Ersad menjelaskan.

Dalam kesempatan wawancara tersebut juga, Ersad sangat berterimakasih kepada semua yang telah mendukungnya, baik secara moril dan materil.

“Terimakasih kepada kedua orang tua, kepada pihak-pihak yang telah membantu baik moril dan materil baik perorangan dan lembaga, paraparalo (terimakasih dalam bahasa Bintauna),” tutup Ersad.

Keterlibatan Ersad dalam konferensi tersebut merupakan peluang emas terhadap pengembangan Sumber Daya Manusia bagi Bolmut. Setelah menjadi salah satu pembicara dalam konferensi tersebut, Ersad juga melakukan lawatan kesejumlah negara di Eropa.

Tujuannya untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan ikonik disana, diantaranya Perancis, Belgia, dan terakhir di Jerman hingga akhirnya kembali ke Belanda dan melanjutkan perjalanan pulang ke tanah air Indonesia.

Sebagai informasi, Konferensi ini diselenggarakan oleh Cabang Khusus Nahdlatul Ulama untuk Belanda (PCI NU Belanda) bekerjasama dengan Vrije Universiteit Amsterdam.

Acara ini juga bekerjasama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia, KBRI Den Haag, NL Alumni Network Indonesia, Konsorsium Belanda – Indonesia untuk Hubungan Muslim–Kristen (NICMCR), dan Masjid Al-Hikmah di Den Haag.

Konferensi ini bertujuan untuk mempertemukan para sarjana, peneliti, dan aktivis untuk mendiskusikan ide-ide yang relevan mengenai topik dan sub-topik konferensi.

Diantaranya Untuk menemukan, mengembangkan, dan menata kembali pemahaman tentang peran agama. Untuk mengevaluasi ilmu pengetahuan, inovasi, dan kemajuan kontribusi dan penerapannya dalam aspek-aspek seperti kepatuhan etika dan moral.

Selain konferensi, ada pula serangkaian acara lain yakni pameran yang bertajuk The Traversing of Islam Nusantara in the Netherlands. Diskusi praktisi pendidikan Belanda dan Indonesia bertajuk The Future of Islamic Higher Education in Indonesia. Selain itu, ada juga dialog lintas keyakinan Religion in Colonization and Decolonization. Indonesian-Dutch Confrontation, Confirmation, Transformation. (Asriadi)