Gulir Untuk Melanjutkan Konten
BeritaBudayaGorontaloRegional

100 Tahun Jaton di Gorontalo, Festival Ketupat Diusulkan Jadi Ikon Wisata Religi

309
×

100 Tahun Jaton di Gorontalo, Festival Ketupat Diusulkan Jadi Ikon Wisata Religi

Sebarkan artikel ini
Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie saat hadir pada pelaksanaan Festival Ketupat yang dipusatkan di Desa Reksonegoro, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Senin (7/4/2025).

Asumsi.id – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie mendorong pelaksanaan hari raya Ketupat bagi masyarakat Jawa Tondano yang bermukim di Desa Reksonegoro, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, untuk menjadi wisata religi. Menurutnya, tradisi masyarakat Jawa Tondano (Jaton) yang dilaksanakan setiap tanggal 7 Syawal itu, sangat kental dengan keagamaan dan kebudayaan.

“Insya Allah dengan kehadiran saya, pak gubernur, pak bupati, bapak-bapak Forkominda, serta masyarakat lainnya, Desa Reksonegoro menjadi daya tarik pengunjung, menjadi daya tarik wisata. Karena saya lihat di sini, semuanya pegang handphone, di akun masing-masing pasti melakukan live (siaran langsung), itu bagus. Karena bisa memperkenalkan inilah Desa wisata religi Reksonegoro,” ujar Idah saat mendampingi Gubernur Gorontalo pada pelaksanaan Festival Ketupat di Reksonegoro, Senin (7/4/2025).

Iklan
Gulir Untuk Melanjutkan Konten

Idah juga menggambarkan, suasana di Reksonegoro masih sangat tradisional. Hal itu dilihat dari bangunan rumah – rumah panggung, yang menjadi khas masyarakat Jawa Tondano. Perayaan lebaran ketupat tahun ini juga menjadi lebih istimewa bagi masyarakat Reksonegoro, karena bertepatan dengan satu abad atau 100 tahun migrasi warga Jaton dari Minahasa, Sulawesi Utara, ke Gorontalo pada tahun 1925.

BACA JUGA  Kokohkan Hati Dengan Iman dan Taklukan Dunia dengan Quran, PKK Kabgor Gelar Wisata Religi

“Begitu masuk di Desa Reksonegoro sangat menarik, masyarakatnya dan rumahnya masih tradisional, walaupun ada pembenahan, walaupun ada renovasi, tetapi tidak mengurangi dan tidak merubah rumah yang aslinya. Nah ini tolong tetap dipertahankan, karena ini juga bisa menjadi daya tarik wisata,” tambahnya.

Terakhir Idah berharap, kegiatan ini dapat memberikan dampak perekonomian untuk masyarakat. Karena menampilkan berbagai hidangan tradisional maupun kesenian – kesenian lokal.

Perayaan Festival ketupat ini diawali dengan doa bersama di Masjid Al-Magfirah, yang dilanjutkan dengan penabuhan beduk oleh Gubernur Gusnar Ismail. Festival ketupat diisi dengan pagelaran seni budaya Jaton, di antaranya kesenian hadrah dan tarian dana-dana. Turut diserahkan pula santunan dari Baznas kepada anak yatim piatu, lansia serta disabilitas.

BACA JUGA  Kuasa Hukum MD Akan Buka Keterlibatan Pihak lain di Persidangan

Tradisi perayaan lebaran ketupat di Gorontalo sudah menyebar hingga ke desa atau kecamatan lain. Seperti di Desa Kaliyoso, Bongomeme, Isimu, Yosenegoro, sampai ke Tapa, Bone Bolango. Ada pula di Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, hingga ke Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *