LIMBOTO, Asumsi.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Sugondo Makmur menegaskan pentingnya peran keluarga dalam mendidik agama anak. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri peluncuran program Tahtaqu (Tahsin, Tahfidz Al-Qur’an) yang mengusung tema Satu Hati Bersama Al-Qur’an pada Jumat (25/9/2026).
Dalam sambutannya, Sugondo menyampaikan bahwa peluncuran Tahtaqu bukan sekadar peresmian program biasa, melainkan langkah nyata untuk mendekatkan generasi muda dengan Al-Qur’an. Menurutnya, pembangunan suatu daerah tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur, ekonomi, dan pelayanan publik, tetapi juga harus menyentuh aspek pembangunan manusia.
”Di sinilah Al-Qur’an memiliki posisi yang sangat penting. Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi dipelajari, dihafal, dipahami, diamalkan, dan dijadikan pedoman hidup. Oleh karena itu, saya menyambut baik hadirnya program Tahtaqu ini sebagai bagian dari ikhtiar bersama membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an,” tegas Sugondo.
Ia juga menjelaskan makna mendalam di balik tema Satu Hati Bersama Al-Qur’an. Menurutnya, tema tersebut mengandung pesan agar seluruh elemen masyarakat memiliki tekad yang sama. Orang tua, guru, sekolah, pemerintah, dan masyarakat harus bergerak bersama demi melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an.
Secara khusus, Sugondo menitipkan pesan mendalam kepada para orang tua agar tidak melepas tanggung jawab pendidikan agama anak sepenuhnya kepada lembaga formal maupun guru mengaji.
”Jangan serahkan pendidikan agama anak hanya kepada sekolah atau guru mengaji. Pendidikan pertama dan utama seorang anak adalah keluarga, dan rumah harus menjadi tempat pertama anak mengenal Al-Qur’an. Kalau kita ingin anak kita cinta Al-Qur’an, maka kita harus terlebih dahulu menunjukkan cinta kita kepada Al-Qur’an,” ulasnya.
Mengakhiri sambutannya, Sekda menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih setinggi-tingginya kepada para guru, ustadz, dan ustadzah. Ia menyadari bahwa tugas mengajar Al-Qur’an bukanlah hal yang ringan.
”Tugas saudara-saudara bukan hanya mengajarkan huruf, tajwid, dan hafalan, tetapi juga menanamkan nilai, membentuk karakter, dan menyiapkan generasi masa depan,” pungkas Sugondo.








