Boltara, Asumsi.id — Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia dengan angka kejadian yang tergolong tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bolaang Mongondow Utara (Boltara) menyoroti bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian TB adalah masih banyaknya kasus yang belum terdeteksi atau missing cases.
Hal ini disebabkan oleh sistem pelayanan kesehatan yang cenderung pasif, yakni menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.
Padahal, TB merupakan penyakit menular yang dapat menyebar dengan cepat apabila tidak segera ditangani.
Kondisi ini mendorong perlunya pendekatan inovatif melalui penemuan kasus secara aktif (active case finding), dengan melibatkan peran masyarakat serta memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.
Seiring dengan perkembangan teknologi digital, kini tersedia berbagai sistem informasi yang mampu mendukung upaya pengendalian TB. Teknologi tersebut memungkinkan deteksi dini gejala TB, pelaporan kasus secara cepat, serta monitoring pasien secara real-time.
Berdasarkan kebutuhan tersebut, Dinkes mengembangkan inovasi bernama SI-GAP TB, sebuah solusi terintegrasi yang dirancang untuk meningkatkan penemuan kasus TB secara aktif.
Sistem ini diharapkan dapat mempercepat identifikasi penderita, meningkatkan kualitas pelaporan, serta memastikan pasien mendapatkan pemantauan yang optimal selama proses pengobatan.
Peluncuran dan pelaksanaan awal SI-GAP TB telah dilakukan pada 17 April 2024 di Coconut Beach Resto. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi antara tenaga kesehatan, masyarakat, dan teknologi dalam upaya menekan angka penyebaran TB di Indonesia.
Dinkes berharap, melalui inovasi ini, angka kasus TB yang tidak terdeteksi dapat ditekan secara signifikan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini dan pengobatan yang tepat.*










