S&P 500 Melemah, Saham Teknologi Tumbang Usai Laporan Keuangan Big Tech

Jumat, 31 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivitas perdagangan berlangsung di lantai bursa New York Stock Exchange (NYSE)

Aktivitas perdagangan berlangsung di lantai bursa New York Stock Exchange (NYSE)

Asumsi.id – Indeks S&P 500 melemah pada perdagangan Kamis (30/10) waktu setempat, seiring investor mencerna sejumlah laporan keuangan dari perusahaan teknologi raksasa (Big Tech), sementara pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping resmi berakhir.

Indeks pasar yang luas tersebut turun 0,3%, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,9%. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average justru menguat 213 poin atau sekitar 0,4%, menjadi indeks dengan kinerja terbaik hari itu.

Perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Meta, dan Microsoft masing-masing merilis laporan keuangan kuartalan setelah penutupan pasar pada Rabu malam. Saham Alphabet naik sekitar 4% berkat hasil kinerja yang kuat, namun Meta dan Microsoft anjlok masing-masing 9% dan 2%, setelah investor menyoroti peningkatan proyeksi belanja perusahaan tersebut.

Penurunan pada Meta, Microsoft, dan raksasa chip kecerdasan buatan Nvidia menandai terjadinya rotasi keluar dari saham teknologi pada sesi perdagangan tersebut. Di sisi lain, saham-saham perbankan seperti JPMorgan dan Bank of America mencatat kenaikan, begitu pula saham sektor kesehatan setelah Eli Lilly melaporkan hasil dan panduan kuartalan yang melampaui ekspektasi. Saham Eli Lilly naik sekitar 4%.

BACA JUGA  Pimpin Rapat DBON, Wapres Minta Upaya Peningkatan Prestasi Olahraga Fokus dari Hulu

“Hari ini adalah hari untuk saham-saham bernilai,” ujar Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, kepada CNBC. “Karena sektor teknologi telah memimpin pasar belakangan ini, perpindahan investor ini bisa dibilang hal yang alami dan sehat,” katanya, seraya menambahkan bahwa “semua tanda menunjukkan pengeluaran untuk infrastruktur AI masih sangat kuat.”

Perdagangan internasional juga menjadi fokus setelah Trump menyetujui pemangkasan tarif fentanyl terhadap China menjadi 10%. Dengan kebijakan ini, total bea impor produk China turun menjadi 47% dari sebelumnya 57%. Sebagai bagian dari kesepakatan, Beijing akan berupaya menekan penyelundupan fentanyl ke Amerika Serikat serta membeli kedelai dan produk pertanian asal AS. China juga menunda kebijakan pembatasan ekspor logam tanah jarang selama satu tahun.

BACA JUGA  Bawaslu Bolmong Serahkan Santunan Kecelakaan Kerja untuk Ad Hoc Pemilu 2024

“Masalah logam tanah jarang sudah selesai,” ujar Trump.

Meski demikian, isu lain seperti ekspor chip Nvidia dan divestasi TikTok masih belum terselesaikan. Kementerian Perdagangan China menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan AS guna menyelesaikan isu TikTok, namun belum memberikan rincian lebih lanjut.

“Ini belum selesai sama sekali,” tambah Ellerbroek. “Volatilitas pasar akibat kebijakan perdagangan Trump akan terus menjadi ciri pasar modal kita selama ia masih menjabat presiden.”

Selain Nvidia, saham semikonduktor lain seperti Broadcom dan AMD juga berada di bawah tekanan pada Kamis. Ellerbroek menyebut bahwa sektor semikonduktor kini menjadi “bola yang terus dipantulkan” antara AS dan China.

“Jika ingin mendapatkan pertumbuhan dari sektor chip dan eksposur terhadap belanja pusat data, Anda harus siap menghadapi risiko politik — dan hal itu tidak akan hilang dalam waktu dekat,” ujarnya.

BACA JUGA  Pj. Bupati Bolmut Buka Tournament Sepak Bola Antar Desa se-Kecamatan Kaidipang

Pasar Wall Street sendiri datang dari sesi perdagangan yang beragam pada Rabu. Dow Jones sempat mencetak rekor tertinggi intraday sebelum akhirnya ditutup sedikit melemah. S&P 500 berakhir datar, sementara Nasdaq menguat hampir 0,6%. Ketiga indeks sempat menyentuh level tertinggi baru dalam perdagangan harian, dengan Nasdaq juga mencatat rekor penutupan baru.

Kenaikan tersebut terjadi setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell memberi sinyal bahwa bank sentral kemungkinan tidak akan kembali menurunkan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang, meski investor sempat memperkirakan sebaliknya.

“Penurunan suku bunga lanjutan pada pertemuan Desember bukanlah hal yang pasti — bahkan jauh dari itu,” kata Powell.

The Fed sebelumnya telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 0,25 poin persentase pada Rabu.*

Facebook Comments Box

Berita Terkait

‎Tertinggal Lebih Dulu, Korea Selatan Bangkit Tekuk Ceko 2-1
‎Hasil Piala Dunia 2026: Meksiko Tundukkan Afrika Selatan 2-0 di Grup A
Heriyus Apresiasi Panen Nila Kelompok Tani Pakat Bersama
Sambut PENAS KTNA XVII, Kabupaten Gorontalo Tawarkan Pesona Wisata Unggulan
‎Usai Keluhan Siswa dan Guru, Distribusi MBG di Kaidipang Dihentikan Sementara
‎Bupati Boltara Temui Menteri ATR/BPN, Bahas RDTR dan Hilirisasi Pertanian
Desa Iloponu Jalani Monev Desa Antikorupsi 2026, Perkuat Transparansi dan Akuntabilitas
‎Pemkab Gorontalo Perkuat Pelaporan Data Stunting, Targetkan Prevalensi Turun Jadi 24 Persen

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 22:08

‎Tertinggal Lebih Dulu, Korea Selatan Bangkit Tekuk Ceko 2-1

Jumat, 12 Juni 2026 - 20:13

‎Hasil Piala Dunia 2026: Meksiko Tundukkan Afrika Selatan 2-0 di Grup A

Jumat, 12 Juni 2026 - 13:29

Heriyus Apresiasi Panen Nila Kelompok Tani Pakat Bersama

Jumat, 12 Juni 2026 - 13:17

Sambut PENAS KTNA XVII, Kabupaten Gorontalo Tawarkan Pesona Wisata Unggulan

Jumat, 12 Juni 2026 - 12:45

‎Usai Keluhan Siswa dan Guru, Distribusi MBG di Kaidipang Dihentikan Sementara

Berita Terbaru