LIMBOTO, Asumsi.id – Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan kesiapan perusahaan untuk menyerap hingga 4 juta ton beras produksi petani sepanjang 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah.
Pernyataan itu disampaikan Ahmad Rizal saat menjadi narasumber pada Temu Wicara Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 yang berlangsung di Kabupaten Gorontalo, Minggu (21/6).
Menurutnya, Bulog memiliki peran strategis dalam menjaga ketersediaan pangan nasional melalui penyerapan hasil panen domestik, pengelolaan cadangan pangan pemerintah, serta pengendalian stabilitas harga di pasar.
“Bulog menargetkan penyerapan hingga 4 juta ton beras dari petani dalam negeri. Untuk mendukung hal tersebut, kami juga menyiapkan kapasitas pergudangan hingga 7 juta ton yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebijakan pengadaan gabah dan beras dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Melalui skema tersebut, Bulog berupaya memastikan hasil panen petani terserap maksimal sekaligus menjaga harga tetap stabil saat musim panen raya.
Selain melakukan penyerapan hasil produksi petani, Bulog juga menjalankan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) guna menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat serta meredam gejolak pasar.
Dari sisi infrastruktur, kapasitas gudang nasional yang mencapai 7 juta ton terus dimanfaatkan untuk menjaga kualitas dan ketersediaan stok pangan. Sementara itu, Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) tetap menjadi instrumen penting dalam menghadapi kondisi darurat, penyaluran bantuan pangan, maupun pengendalian harga.
Bulog juga memperluas kerja sama dengan kelompok tani dan koperasi berbadan hukum untuk memperkuat rantai pasok pangan nasional. Upaya tersebut didukung pemanfaatan teknologi dan digitalisasi logistik guna meningkatkan efisiensi distribusi dan pengelolaan stok.
Ahmad Rizal menilai keberhasilan Indonesia dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak, khususnya petani dan nelayan yang menjadi ujung tombak sektor pangan.
“Kita sudah tidak lagi mengimpor pangan. Bulog hadir untuk menjaga harga pangan yang beredar di masyarakat. Semua keberhasilan ini tidak lepas dari peran petani dan nelayan Indonesia,” pungkasnya.









