Kangkung Darat kini menjadi salah satu pilihan utama warga pedesaan untuk menambah penghasilan. Dengan perawatan yang mudah dan masa panen singkat, sayuran hijau ini banyak ditanam di lahan pekarangan maupun sawah tadah hujan yang sebelumnya tidak produktif.
Di Desa Kaligesing, Purworejo, beberapa kelompok tani mulai serius menggarap kebun kangkung darat. Hanya dengan modal benih dan pupuk organik, warga bisa memanen kangkung dalam waktu sekitar tiga minggu. “Dulu lahan ini kosong, sekarang bisa panen rutin. Hasilnya dijual ke pasar tradisional setiap pagi,” ujar Sugiyanto, salah satu petani setempat, Jumat (26/9).
Harga kangkung di tingkat petani relatif stabil, berkisar Rp3.000 hingga Rp5.000 per ikat tergantung musim. Permintaan dari pedagang sayur keliling dan warung makan membuat pasarnya hampir tidak pernah sepi. Bahkan beberapa petani sudah mulai memasok ke kota terdekat karena produksi di desa cukup melimpah.
Selain menambah penghasilan, kebun kangkung darat juga memberi manfaat sosial. Banyak ibu rumah tangga ikut membantu menanam dan memanen sehingga tercipta kegiatan ekonomi keluarga. “Kalau ada panen besar, tetangga-tetangga ikut ngarit (memetik) kangkung, jadi terasa gotong royongnya,” kata Sugiarti, warga lain yang ikut menanam.
Kesederhanaan cara tanam menjadi alasan utama kenapa kangkung darat cepat diterima di pedesaan. Tanah cukup dicangkul ringan, diberi pupuk organik, lalu benih ditabur. Dengan pengairan seadanya dari sumur atau tadah hujan, tanaman bisa tumbuh subur. Petani juga kerap menggunakan sisa kotoran ternak sebagai pupuk, sehingga biaya produksi jauh lebih hemat.
Keberhasilan warga pedesaan mengelola kebun kangkung darat menunjukkan bahwa lahan kecil sekalipun bisa menjadi sumber ekonomi jika dikelola dengan baik. Selain memperkuat ketahanan pangan keluarga, usaha ini juga membuka peluang tambahan pendapatan bagi masyarakat desa.*










