Usaha Kebun Kangkung darat kian menarik perhatian petani desa karena modal yang dibutuhkan relatif kecil, sementara potensi keuntungan cukup menjanjikan. Dengan lahan seluas 1.000 meter persegi, petani bisa mengantongi laba bersih hingga jutaan rupiah dalam sekali masa tanam yang hanya berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu.
Berdasarkan perhitungan sederhana, modal utama yang dikeluarkan meliputi pembelian benih sekitar Rp200.000, pupuk organik Rp300.000, serta biaya perawatan dan pengairan Rp500.000. Total modal yang dibutuhkan berkisar Rp1.000.000 hingga Rp1.200.000 untuk satu kali tanam. Jika petani memanfaatkan pupuk kandang sendiri, biaya bisa lebih rendah lagi.
Dalam lahan 1.000 meter persegi, rata-rata hasil panen kangkung darat mencapai 800 hingga 1.000 ikat. Dengan harga jual Rp3.000 hingga Rp4.000 per ikat di tingkat pasar tradisional, omzet yang diperoleh bisa mencapai Rp2.400.000 hingga Rp4.000.000. Setelah dikurangi modal, petani berpeluang mendapat keuntungan bersih antara Rp1.200.000 hingga Rp2.800.000 hanya dalam waktu kurang dari sebulan.
“Kami bisa panen tiga sampai empat kali dalam sebulan kalau lahan diatur bertahap. Hasilnya cukup untuk tambahan biaya sekolah anak dan kebutuhan harian,” ujar Wahyudi, petani kangkung darat di Banyumas, Jumat (26/9).
Keuntungan ini semakin terasa karena tanaman kangkung darat bisa dipasarkan langsung ke pedagang sayur keliling, warung makan, hingga pasar tradisional tanpa harus melalui tengkulak. Dengan siklus panen yang singkat, perputaran modal menjadi cepat dan resiko kerugian lebih kecil dibanding tanaman lain yang membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Para petani menilai usaha kangkung darat cocok bagi masyarakat desa yang memiliki lahan kecil maupun pekarangan kosong. Selain mudah dirawat, potensi pasarnya juga luas karena kangkung merupakan sayuran yang hampir setiap hari dikonsumsi masyarakat. Jika dikelola secara berkelompok, hasil dari 1.000 meter lahan bisa menjadi sumber ekonomi yang signifikan bagi warga desa.









