Asumsi.id – Kementerian Agama Kabupaten Lombok Timur menunjukkan komitmennya dalam perlindungan anak dengan berpartisipasi aktif dalam program “Gawe Gubuk” yang digelar oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur, Selasa (20/5). Program ini merupakan layanan integrasi untuk perlindungan anak dan pencegahan perkawinan anak, yang dipusatkan di Alun-alun Desa Lendang Nangka.
Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Agama bersama perwakilan pondok pesantren dari 21 kecamatan mendeklarasikan Pondok Pesantren Ramah Anak. Deklarasi ini dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Pd. Pontren), H. Hasanuddin, dan diikuti oleh seluruh perwakilan pesantren yang hadir.
Prosesi pembacaan deklarasi diakhiri dengan penandatanganan spanduk komitmen oleh seluruh peserta, sebagai simbol kesungguhan pondok pesantren dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak.
Deklarasi ini disaksikan oleh Ketua TP PKK Provinsi NTB, perwakilan Gubernur NTB, perwakilan Bupati Lombok Timur, serta para pejabat daerah dan tamu undangan lainnya.
Adapun pondok pesantren yang terlibat dalam deklarasi ini antara lain:
– PP Tahfidz Insan Madani NW Siwi Raya Jerowaru
– PP Al Amin NW Sepit Keruak
– PP Darul Furqon Mengkuru Sakra Barat
– PP Irsyadul Ummah NW Sakra
– PP Jihadul Muslimin Terara
– PP Azzainiyah Al Majidiyyah NW Sikur
– PP Thohir Yasin Masbagik
– PP NU Jami’atul Mu’min Paok Pampang Sukamulia
– PP Darunnahdlatain NWDI Selong
– PP Bahrul Ulum NW Menangabaris Pringgabaya
– PP As-Sunnah Aikmel
– PP Nurul Arofah NW Sambelia
– PP Fatmayodha Is’adunnahdiyyah NWDI Labuhan Haji
– PP Nurul Huda NW Sembalun
– PP Anas Bin Malik Lombok Wanasaba
– PP Darul Muttaqien NWDI Montong Gading
– PP Darul Mujahidin NW Pringgasela
– PP Syaikh Zainuddin NW Suralaga
– PP Miftahul Faizin NW Suela
– PP Darul Al Istiqomah NW Sakra Timur
– PP Saggafusshalih Nahdlatul Wathan Lenek
Kegiatan “Gawe Gubuk” sendiri dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan. Pemerintah dan masyarakat bahu membahu dalam memberikan edukasi, penyuluhan, serta layanan konsultasi terkait isu-isu tersebut. Kantor Urusan Agama (KUA) setempat turut dilibatkan untuk memberikan layanan dan edukasi terkait pernikahan.*








