Politik di Balik Nama “Chinese Taipei” untuk Taiwan di FIFA dan Olimpiade

Sabtu, 6 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Timnas Sepakbola Chinese Taipei

Foto: Timnas Sepakbola Chinese Taipei

TAIWAN tidak pernah tampil dengan nama resminya dalam ajang olahraga internasional. Sejak 1980-an, negara tersebut menggunakan sebutan Chinese Taipei sebagai kompromi diplomatik untuk menyiasati tekanan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.

Sejarah Nama “Chinese Taipei”

Istilah “Chinese Taipei” pertama kali muncul pada 1979 melalui Resolusi Nagoya. Kesepakatan itu menjadi jalan tengah agar Republik China (ROC/Taiwan) dan RRT tetap dapat berpartisipasi di ajang olahraga internasional. Pada 1981, Komite Olimpiade Republik China resmi berganti nama menjadi Chinese Taipei Olympic Committee.

Penerapan di FIFA

Di sepak bola, keputusan serupa diambil pada Kongres FIFA ke-42 di Buenos Aires, 7 Juli 1980. Taiwan tetap diakui sebagai anggota, tetapi dengan nama Chinese Taipei Football Association (CTFA). Mereka sempat bergabung dengan Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) pada 1982 sebelum akhirnya kembali ke Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 1989.

BACA JUGA  Strategi Edukasi Pernikahan Dini: Membangun Kesadaran di Kalangan Remaja dan Orang Tua

Simbol Alternatif

Dalam ajang internasional, Taiwan tidak diperkenankan menggunakan bendera resmi dan lagu kebangsaan. Sebagai gantinya, digunakan Plum Blossom Banner—bendera putih dengan lambang ROC dan lima cincin Olimpiade—serta lagu kebangsaan khusus.

Tekanan Politik dan Diplomasi

Sejak RRT menduduki kursi di PBB pada 1971, ruang diplomasi Taiwan semakin terbatas. Kebijakan “One China Policy” yang digagas Beijing membuat Taiwan tidak bisa menggunakan identitas resmi kenegaraannya di panggung global.

Perdebatan di Dalam Negeri

Meski kompromi ini memungkinkan Taiwan tetap tampil, banyak warganya menilai istilah “Chinese Taipei” membatasi identitas nasional mereka. Pada 2018 digelar referendum untuk mengganti nama menjadi “Taiwan”, namun ditolak karena dikhawatirkan memicu sanksi hingga pencoretan keikutsertaan dari ajang internasional—seperti kasus pencabutan status tuan rumah East Asian Youth Games.*

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Peter Shilton dan Fabien Barthez Berbagi Rekor Clean Sheet Terbanyak di Piala Dunia
19 Tahun Bolmut: Deretan Problem yang Belum Tuntas
Dari Anak Tangga Binadow, Terikrar Pertemuan Keramat di Lapangan Inomasa, Bolmut Kini Telah Menginjak Usia Dewasa
“Maung” Presiden Prabowo Curi Perhatian Delegasi ASEAN dan Warga Filipina
Rahmanto Pimpin Perang Lawan Stunting
Ramadan Tersisa 10 Hari: Perkuat Ibadah Menjemput Idulfitri
Perbedaan Presiden dan Pemimpin Tertinggi Iran, Ini Penjelasannya
Jurnalis Muslim Andre Hariyanto Serukan Umat Maksimalkan Ibadah di Bulan Ramadhan

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:05

Peter Shilton dan Fabien Barthez Berbagi Rekor Clean Sheet Terbanyak di Piala Dunia

Sabtu, 23 Mei 2026 - 07:23

19 Tahun Bolmut: Deretan Problem yang Belum Tuntas

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:00

Dari Anak Tangga Binadow, Terikrar Pertemuan Keramat di Lapangan Inomasa, Bolmut Kini Telah Menginjak Usia Dewasa

Sabtu, 9 Mei 2026 - 10:14

“Maung” Presiden Prabowo Curi Perhatian Delegasi ASEAN dan Warga Filipina

Selasa, 21 April 2026 - 16:03

Rahmanto Pimpin Perang Lawan Stunting

Berita Terbaru