TAIWAN tidak pernah tampil dengan nama resminya dalam ajang olahraga internasional. Sejak 1980-an, negara tersebut menggunakan sebutan Chinese Taipei sebagai kompromi diplomatik untuk menyiasati tekanan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.
Sejarah Nama “Chinese Taipei”
Istilah “Chinese Taipei” pertama kali muncul pada 1979 melalui Resolusi Nagoya. Kesepakatan itu menjadi jalan tengah agar Republik China (ROC/Taiwan) dan RRT tetap dapat berpartisipasi di ajang olahraga internasional. Pada 1981, Komite Olimpiade Republik China resmi berganti nama menjadi Chinese Taipei Olympic Committee.
Penerapan di FIFA
Di sepak bola, keputusan serupa diambil pada Kongres FIFA ke-42 di Buenos Aires, 7 Juli 1980. Taiwan tetap diakui sebagai anggota, tetapi dengan nama Chinese Taipei Football Association (CTFA). Mereka sempat bergabung dengan Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) pada 1982 sebelum akhirnya kembali ke Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 1989.
Simbol Alternatif
Dalam ajang internasional, Taiwan tidak diperkenankan menggunakan bendera resmi dan lagu kebangsaan. Sebagai gantinya, digunakan Plum Blossom Banner—bendera putih dengan lambang ROC dan lima cincin Olimpiade—serta lagu kebangsaan khusus.
Tekanan Politik dan Diplomasi
Sejak RRT menduduki kursi di PBB pada 1971, ruang diplomasi Taiwan semakin terbatas. Kebijakan “One China Policy” yang digagas Beijing membuat Taiwan tidak bisa menggunakan identitas resmi kenegaraannya di panggung global.
Perdebatan di Dalam Negeri
Meski kompromi ini memungkinkan Taiwan tetap tampil, banyak warganya menilai istilah “Chinese Taipei” membatasi identitas nasional mereka. Pada 2018 digelar referendum untuk mengganti nama menjadi “Taiwan”, namun ditolak karena dikhawatirkan memicu sanksi hingga pencoretan keikutsertaan dari ajang internasional—seperti kasus pencabutan status tuan rumah East Asian Youth Games.*









